.
Showing posts with label kisah teladan. Show all posts
Showing posts with label kisah teladan. Show all posts

Erti Kemenangan Yang Sebenar

Rasulullah SAW dalam suatu kesempatan pernah berkhutbah kepada para sahabat bahwa hikmah terbesar dari puasa Ramadhan di antaranya adalah menyambung tali silaturahim, memberi maaf kepada yang menzalimi dan memberi kepada orang yang tidak pernah memberi.

Dari khutbah yang sangat singkat di atas setidaknya ada tiga hal yang yang diperintahkan Rasulullah SAW kepada kita. Dan ketiga hal itu semuanya menyangkut hablum minannaas hubungan kepada sesama manusia. Pertama, di bulan Syawwal yang artinya meningkat ini merupakan momentum yang sangat pas untuk menyambung kembali tali silaturahim terhadap orang yang memutuskan. Hal ini memang dirasakan sangat berat bagi kita untuk menyambung kembali tali silaturahim yang putus.

Namun, hendaknya kita membuka kembali apa yang disabdakan Rasulullah SAW bahwa, ''Rahim (tali kekerabatan) begantung di Arsy. Ia berkata, barang siapa menyambungku maka akan disambung oleh Allah. Dan barang siapa memutusku maka akan diputus oleh Allah.'' (HR Bukhari dan Muslim). Sabda lain, kebaikan yang paling cepat mendatangkan pahala adalah birr (berbakti) dan silaturahim. Dan kejahatan yang paling cepat mendapat hukuman adalah kedurhakaan dan pemutusan silaturahim (HR Ibnu Maajah).

Dari dua hadis di atas sangat jelas bahwa menyambung kembali tali silaturahim merupakan perbuatan yang sangat disukai Allah. Selain itu orang yang menyambung silaturahim akan mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Sabda Nabi SAW, ''Barang siapa ingin rezekinya lapang dan usianya panjang, maka hendaknya ia menyambung silaturahim.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Kedua, mau memaafkan terlebih dahulu kepada orang yang berbuat zalim terhadap diri kita. Sebagai manusia yang memiliki sifat egois hal ini dirasakan sangat berat untuk bisa memaafkan kesalahan orang lain terlebih dahulu. Mungkin hal ini pernah kita rasakan bagaimana berat godaannya untuk bisa memaafkan terlebih dahulu kepada orang yang jelas-jelas telah menzalimi kita. Di sinilah akan terlihat kualitas keimanan dan ketakwaan kita setelah digembleng selama Ramadhan. Dalam hal ini Rasulullah bersabda, ''Maafkanlah kesalahan orang yang murah hati (dermawan). Sesungguhnya Allah menuntun tangannya jika dia terpeleset (jatuh). Seorang pemurah hati dekat kepada Allah, dekat kepada manusia, dan dekat kepada surga.'' (HR Athabrani).

Ketiga, mau memberi kepada orang yang tidak pernah memberi (kikir). Dalam kehidupan bermasyarakat akan selalu ada di tengah-tengah kita orang yang tidak mau bederma. Mungkin kita juga akhirnya ikut-ikutan untuk tidak memberi kepada orang tersebut. Istilahnya, kekikiran harus dibayar dengan kekikiran pula. Padahal dalam ajaran Islam melarang keras umatnya untuk bersifat kikir. Hal ini dinyatakan dalam hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Muslim bahwa, ''Jauhilah kekikiran. Sesungguhnya kekikiran itu telah membinasakan (umat-umat) sebelum kamu.

Marilah kita mengimplementasikan ketiga hal di atas mumpung masih dalam suasana Lebaran. Dengan demikian, kita, pada akhirnya termasuk orang yang akan dikatakan ud khuluu haa bissalaamin aamin atau ''Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman.

Bekal Untuk Menuju Surga

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Thabrani, Abu Darda berkata, "Rasulullah SAW telah memberi wasiat kepadaku agar aku melihat kepada orang yang lebih rendah daripadaku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, mencintai orang-orang miskin dan mendekati mereka, menyambung tali silaturahim dengan orang yang memutuskan hubungan denganku, berkata atas nama Allah dan tidak takut dalam menegakkan kebenaran di jalan Allah, tidak meminta apa pun dari orang lain, dan memperbanyak bacaan hawqalah. Sesungguhnya semua itu adalah bekal menuju surga."

Ada beberapa prinsip hidup yang terkandung dalam hadis di atas yang jika dipegang teguh akan mengantarkan setiap Muslim menjadi penghuni surga.

Pertama, tidak tergoda oleh gemerlap kenikmatan dunia. Ia selalu melihat kepada orang yang lebih rendah dalam hal urusan dunia. Dengan begitu, ia tidak akan diperbudak oleh nafsu untuk mengejar kenikmatan dunia. Baginya, kepuasan yang sesungguhnya bukan karena melimpahnya harta dan benda, tetapi karena keberhasilannya mensyukuri nikmat Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, "Bukanlah kekayaan itu dengan melimpahnya harta dan benda, melainkan kekayaan itu adalah kekayaan jiwa." (HR Abu Ya'la).

Kedua, meningkatkan ibadah sosial. Dalam hidup, setiap Muslim tidak hanya cukup dengan ibadah ritual tetapi juga ibadah sosial. Ini dapat dilakukan dengan memberi perhatian kepada orang miskin. Sikap ini akan melahirkan kesadaran bahwa hikmah perbedaan kondisi kehidupan manusia adalah agar satu sama lain saling menolong. Menyambung tali silaturahim dengan orang yang telah memutuskan hubungan dengan kita juga merupakan bentuk ibadah sosial. Ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang ikhlas dan berjiwa besar. Rasa kasih sayang telah mengalahkan prasangka buruk terhadap orang lain. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim." (HR Bukhari Muslim).

Ketiga, berjuang menegakkan kebenaran di jalan Allah. Ini adalah perjuangan yang sangat mulia di sisi Allah. Orang yang yakin atas pertolongan Allah, ia tidak akan mundur dalam memperjuangkan kebenaran. Puncak kebahagiaan adalah ketika kebenaran berhasil mengalahkan kebatilan. Allah berfirman, "Kebenaran itu datang dari Tuhanmu. Dan janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang ragu terhadap kebenaran itu." (QS. 2:147).

Keempat, hidup mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Ini berarti bahwa setiap orang diperintahkan untuk berusaha dan bekerja dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Hidup sederhana dengan hasil keringat sendiri lebih baik daripada hidup berlimpah tetapi dari pemberian orang lain. Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah sekali-kali seseorang itu makan makanan lebih baik daripada apa yang dimakannya dari hasil jerih payahnya sendiri. Dan Nabi Daud AS itu makan dari hasil jerih payahnya sendiri." (HR. Bukhari).

Kisah Teladan: Antara Cinta dan Pengorbanan

Ada seorang laki-laki tua yang sangat taat beribadah kepada Allah SWT. Pada suatu masa, ia merasa terkejut bercampur sedih ketika putra yang sangat ia cintai dan sayangi diperintahkan untuk disembelih. Perintah tersebut berasal dari Zat yang Agung dan sangat ia taati, yaitu Rabbul Alamin.

Lelaki tua itu tidak lain adalah Ibrahim AS dan anaknya, Ismail AS. Keduanya adalah nabi utusan Allah SWT. Sepanjang hidupnya, Ibrahim AS terkenal sebagai orang yang tidak pernah mengabaikan perintah Tuhan-Nya. Namun, perintah Allah kali itu terasa sangat berat dan susah untuk dilaksanakan. Betapa tidak, anak semata wayang yang sudah lama dinantikan kehadirannya tiba-tiba diperintahkan untuk dikorbankannya. Terjadilah dialog antara ayah dan anak yang kemudian diabadikan dalam Alquran. Kata Ibrahim, ''Anakku, aku bermimpi diperintah Allah untuk menyembelihmu, maka renungkanlah baik-baik kemudian berikan jawabanmu!''

Dengan tenang Ismail pun menjawab, ''Ayah, laksanakanlah perintah itu dengan penuh ketaatan, insya Allah aku termasuk orang-orang yang bersabar.'' Namun, dengan ketaatan keduanya, Allah SWT ternyata justru mengabadikan peristiwa bersejarah tersebut dengan menyelamatkan Ismail dan menggantikannya dengan domba yang sehat dan gemuk.

Ada dua pesan yang dapat ditangkap dari kisah di atas.

Pertama, kepasrahan Ibrahim dan Ismail adalah bukti penyerahan diri secara total kepada Tuhan yang Maha Memiliki segalanya. Kita sebagai manusia seharusnya menyadari bahwa semua yang kita miliki sekadar titipan dan pasti akan kembali. Harta, jabatan, anak, istri, dan bahkan nyawa sekalipun tidak akan selamanya abadi. Hanya Allah SWT yang kekal dan abadi. Firman-Nya, ''.... Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala keputusan, dan hanya kepada-Nyalah kamu akan dikembalikan.'' (QS 28: 88).

Kedua, peristiwa tersebut mengandung makna pengorbanan yang sangat besar, di mana seorang ayah dengan tegar dan ikhlas mau mengorbankan putra kesayangannya. Tentunya kisah ini adalah pelajaran yang sangat berharga. Pengorbanan adalah bukti dari rasa cinta. Dengan pengorbanan kita berusaha belajar mengikis rasa kikir pada diri sendiri, dan itu dapat dibuktikan dengan mau berbagi dengan saudara (orang lain) yang memerlukannya.

Kita sering tidak menyadari bahwa rasa cinta kepada Allah SWT juga memerlukan pengorbanan. Yaitu, ikhlas memberikan apa yang paling kita cintai. Allah SWT berfirman, ''Kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan kebajikan yang sempurna sebelum kamu menafkahkan dari sesuatu yang kamu cintai, sesungguhnya Allah pasti mengetahuinya.'' (Al-Imran: 92). Orang yang mampu berbagi tapi kemudian menyembunyikan nikmat itu, maka Allah akan memberikan hukuman bagi mereka. Firman-Nya, ''Orang-orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir serta orang-orang yang menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikannya kepada mereka, kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir (nikmat) siksa yang menghinakan.''

Hendaklah Berlaku Adil Dan Berbuat Baik

Berbuat baik merupakan misi Islam terpenting bagi kehidupan manusia. Islam memerintahkan Muslim untuk berbuat baik kepada semua makhluk, terutama kepada sesama manusia. Dalam Alquran, perintah berbuat baik kadangkala beriringan dengan perintah menegakkan keadilan. Ini mengisyaratkan tegak dan berkembangnya perbuatan baik dalam kehidupan manusia didukung kebiasaan berlaku adil. Allah berfirman, "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebaikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan." (QS 16:90).

Islam mendorong Muslim berlomba-lomba berbuat baik. Balasan bagi para pemenangnya diberikan Allah di akhirat kelak berupa surga. Allah berfirman, "Berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian pada hari kiamat.

Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS 2:148). Perbuatan baik lahir dari iman dan takwa, serta hanya mengharap balasan dari Allah di dunia dan akhirat. "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu? Mereka menjawab, 'Allah telah menurunkan kebaikan'. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat pembalasan yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa." (QS 16:30).

Perbuatan baik lahir dari orang-orang yang memiliki sifat-sifat baik dalam dirinya. Sifat-sifat yang baik hanya diberikan Allah kepada orang yang sabar. Allah berfirman, "Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar." (QS 41:35).

Di antara perbuatan baik adalah memberikan bantuan moral, material, tenaga, dan bersikap baik kepada sesama manusia. Perbuatan baik perlu ditunjukkan kepada karib kerabat terdekat, tetangga, dan sesama manusia. Allah berfirman, "Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu." (QS.4:36).

Bentuk lain perbuatan baik, menggunakan harta sesuai perintah Allah demi kepentingan dunia dan akhirat. Allah berfirman, "Belanjakanlah hartamu di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS 2:195).

Kebaikkan yang bernilai tinggi di sisi Allah adalah berbuat baik kepada orang yang jahat kepada kita. Allah berfirman, "Mereka itu diberi pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan dan sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan." (QS 28:54).

Setiap kebaikan mendapat balasan lebih baik dari Allah dan setiap kejahatan mendapat balasan sebanding dengannya. Allah berfirman, "Siapa yang datang membawa kebaikan, baginya pahala yang lebih baik daripada kebaikannya itu; dan siapa yang datang membawa kejahatan, tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan seimbang dengan apa yang dahulu mereka kerjakan." (QS 28:84).

Kisah: Akan Datang Penghuni Syurga

Di suatu hari Nabi sedang duduk di Masjid bersama para sahabatnya. Tiba-tiba Nabi berseru, "akan datang penghuni surga." Serentak para sahabat memandang ke arah pintu. Ternyata datanglah seorang sahabat yang memberi salam pada mejelis Nabi lalu shalat.

Keesokan harinya lagi, pada situasi yang sama, Rasul berseru, "Akan datang penghuni surga." Tiba-tiba hadir dari arah pintu sahabat yang kemaren juga digelari Rasul penghuni surga.

Selepas bubarnya mejelis Nabi, seorang sahabat mengejar "penghuni surga" tersebut. Ia berkata, "maafkan saya wahai saudaraku. Aku bertengkar dengan keluargaku bolehkah aku barang satu-dua hari menginap di rumahmu?"

"Penghuni surga" ini lalu berkata, "baiklah..." Satu hari berlalu, dua hari berlalu dan tiga hari pun berlalu. Akhirnya sahabat ini tak tahan dan berkata pada "penghuni surga". "Wahai saudaraku sebenarnya aku telah berbohon padamu. Aku tak bertengkar dengan keluargaku. Aku bermalam di rumahmu untuk melihat apa amalanmu karena aku mendengar rasul menyebutmu penghuni surga. Tapi setelah aku perhatikan amalan mu sama dengan apa yang aku kerjakan. Aku jadi tak mengerti....."

"Penghuni surga" itu menjawab, "maafkan aku, memang inilah aku! Ibadah yang aku jalankan tidak kurang- tidak lebih sebagaimana yang engkau saksikan selama tiga hari ini. Aku tak tahu mengapa Rasul menyebutku "penghuni surga".

Sahabat itu lalu pergi meninggalkan "penghuni surga". Tiba-tiba "penghuni surga" itu memanggil sahabat tersebut. "Saudaraku, aku jadi teringat sesuatu. Aku tak pernah dengki pada sesama muslim. Mungkin ini......"

Sahabat tersebut langsung berseru, "ini dia yang membedakan engkau dengan kami. Ini dia rahasianya mengapa Rasul menyebutmu penghuni surga. Ini yang tak dapat kami lakukan."

Ternyata, soal dengki ini bukan persoalan sepele. Ada seorang tukang sate di tempat saya. Alhamdulillah satenya yang memang empuk itu laris bukan main. Tetangganya mulai mencibir dan menuduh si Tukang sate memelihara tuyul. Ketika anak si Tukang Sate kecelakaan, lagi-lagi tetangganya mencibir, "rasakan! itulah tumbal akibat main tuyul!"

Lihatlah kita. Apakah kita bertingkah laku persis tetangga Tukang Sate tersebut? Kita tak rela kalau saudara kita memiliki nilai "lebih" di mata kita. Repotnya, rumput tetangga itu biasanya terlihat lebih "hijau" dibanding rumput kita. Kita dengki dengan keberhasilan saudara kita.

Ada seorang wanita karir yang berhasil. Karena beban kerjanya dia sering kerja lembur sampai baru pulang saat larut malam. Tetangganya menuduh ia wanita jalang. Ketika dari hasil jerih payahnya ia mampu membeli mobil, tetangganya ribut lagi, kali ini ia disebut "simpanan seorang bos".

Masya Allah! Bukannya belajar dari keberhasilan saudara kita tersebut, kita malah mencibir dan menuduhnya yang bukan-bukan.

Dengki adalah persoalan hati. Dari dengki biasanya lahir buruk sangka, kemudian dari buruk sangka biasanya lahir fitnah dan tuduhan, untuk menyebarkan fitnah ini kita bergosip kemana-mana sambil menggunjingkan perilaku orang tersebut.

Lihatlah, bermula dari dengki kemudian menyusul perbuatan dosa yang lain!

Sulit sekali menghilangkan rasa dengki tersebut. Untuk itu marilah kita minta perlindungan-Nya:

"Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan KEDENGKIAN dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (QS 59:10)
 

Unknown kisah teladan

Haruskah Suami Istri Menutupi Tubuh Saat Jima’?

Hingga saat ini, banyak Muslim yang beranggapan bahwa ketika suami istri berjima’, mereka harus menutupi tubuhnya alias tidak diperbolehkan telanjang. Umumnya, anggapan ini dilandasi oleh dua hadits berikut ini.
Pertama, hadits riwayat Ibnu Majah.
“Jika seseorang diantara kalian hendak mendatangi istrinya, maka hendaklah menutupi tubuhnya, dan janganlah bertelanjang bulat seperti telanjangnya dua khimar.”
Kedua, hadits riwayat Tirmidzi.
”Janganlah kalian bertelanjang, sebab sungguh bersama kalian ada makhluk yang tak pernah berpisah...”
Bagaimanakah duduk persoalan yang sebenarnya dan bagaimana kedudukan dua hadits tersebut? Salim A. Fillah di dalam bukunya Bahagianya Merayakan Cinta menjelaskan bahwa hadits pertama (yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah) adalah dhaif. Dalam sanadnya terdapat Al Ahwash bin Hakim dan Walid bin Al Qasim Al Hamdani, keduanya dhaif. Bahkan, An Nasa’i memberi catatan: “hadits ini mungkar.”

Sedangkan hadits kedua (riwayat Tirmidzi), sesungguhnya tidak bisa dijadikan alasan suami istri harus menutup tubuhnya dengan selimut atau semisalnya saat berjima’ dikarenakan malu dengan makhluk lain yang disebutkan dalam hadits tersebut. Padahal, di dalam hadits itu telah ada jawabannya. Yakni kelajutan hadits tersebut yang sering tidak diketengahkan secara lengkap.

“Janganlah kalian bertelanjang, sebab sungguh bersama kalian ada makhluk yang tak pernah berpisah kecuali di saat kalian membung hadats di jamban dan ketika seorang suami mendatangi istrinya” (HR. Tirmidzi).
Salim A. Fillah kemudian menutup penjelasannya dengan kalimat berikut: “Allah tidak menghendaki kesulitan bagi hamba-Nya, bahkan Ia menghendaki kemudahan bagi mereka. Ketika seorang hamba bersama istrinya telah menutup diri dari pandangan manusia di dalam satu bilik di rumahnya, maka Allah tidak lagi membebani mereka dengan hal yang menyulitkan dan memberatkan seperti memakai selimut. Karena bisa jadi selimut akan mengganggu jika hendak berekspresi dan berkreasi. Padahal yang demikian adalah hak yang Allah berikan pada mereka berdua untuk meraih kemuliaan di sisi-Nya.”
Unknown kisah teladan

Kisah Seorang Beribadah 500 Tahun

Dari Jabir r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. telah memberitahu kami bahawa Malaikat Jibrail telah memberitahu Rasulullah s.a.w katanya:”Wahai muhammad demi Allah yang mengutusmu sebagai nabi yang besar, sesungguhnya ada seorang hamba Allah yang beribadat selama 500 tahun diatas sebuah bukit yang lebar,panjangnya bukit itu 30 puluh hasta kali 30 hasta dan disekelilingnya ialah air laut yang seluas 4,000 farsakh dari tiap penjuru. Dan di situ Allah s.w.t mengeluarkan air selebar satu jari dan dari bawah bukit dan Allah s.w.t juga telah menghidupkan sebuah pohon delima yang setiap hari mengeluarkan sebiji buah delima. Apabila tiba waktu petang hamba Allah itu pun memetik buah delima itu dan memakannya, setelah itu ia pun sembahyang. Dalam sembahyang ia telah meminta kepada Allah s.w.t. supaya mematikannya ketika ia dalam sujud, supaya badannya tidak disentuh oleh Bumi atau apa-apa saja sehingga tibanya hari berbangkit.Maka Allah s.w.t. pun menerima permintaanya. Berkatalah malaikat lagi:”Oleh itu setiap kali kami naik turun dari langit kami melihatnya sedang sujud, kami mendapat dalam ilmu bahawa ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan dihadapkan kepada Allah s.w.t. lalu Allah s.w.t. menyuruh Malaikat:”masukkanlah hambaku itu ke dalam syurga dengan limpah rahmatku:” maka berkata orang itu:”Dengan disebabkan amalku?” Maka Allah s.w.t. menyuruh malaikat menghitung semua amalnya dengan nikmat yang Allah s.w.t. berikan.Apabila penghitungan dibuat maka amal yang dibuat oleh orang itu selama 500 tahun itu telah habis apabila dikira dengan sebelah mata, yakni nikmat pengelihatan yang Allah s.w.t. berikan padanya, sedangkan nikmat-nikmat lain belum dikira. Maka Allah s.w.t. berfirman:”Masukkan ia kedalam neraka”.Apabila ia ditarik ke neraka maka ia pun berkata:”Ya Allah, masukkanlah aku ke dalam syurga dengan rahmatmu.”Lalu Allah s.w.t. berfirman kepada malaikat:”Bawakan ia ke mari”. Kemudian Allah s.w.t. bertanya orang itu:”Siapakah yang menjadikan kamu daripada tidak ada”Lalu orang itu menjawab:”Engkau ya Allah”.Kemudian Allah s.w.t. bertanya lagi:”Apakah itu kerana amalmu atau rahmatku?”.jawab orang itu:”Ya Allah, dengan rahmatmu.” Allah s.w.t. bertanya lagi:”Siaapakah yang memberikan kekuatan sehingga 500 tahun kamu beribadat?”.Jawab orang itu:”Engkau ya Allah”. Allah s.w.t. bertanya lagi:”Siapakah yang menempatkan kamu diatas bukit yang di tengah-tengah lautan, dan siapakah yang mengeluarkan air tawar yang bersih dari tengah-tengah lautan yang airnya sangat masin dan siapakah yang menumbuhkan sebuah pohon delima yang mengeluarkan sebiji delima setiap hari, padahal buah itu hanya berbuah setahun sekali lalu kamu meminta supaya aku matikan kamu dalam sujud, jadi siapakah yang membuat semua itu?” lalu orang itu berkata:”Ya Allah, ya Tuhanku engkaulah yang melakukanya.” Allah s.w.t. berfirman: ”Maka semua itu adalah dengan rahmatku dan kini aku masukkan kamu ke dalam syurga juga adalah dengan rahmatku.”Malaikat Jibrail berkata:”Segala sesuatu itu terjadi hanya dengan rahmat Allah s.w.t. Amal yang dibuat oleh seseorang itu tidak akan dapat menyamai walaupun setitik debu sekalipun dengan nikmat yang Allah s.w.t. berikan pada hambanya, oleh itu janganlah mengharapkan amal kita itu akan dapat memasukkan kita ke dalam syurga Allah s.w.t. sebaliknya memohonlah dengan rahmatnya. Sebab hanya dengan rahmat Allah s.w.t. sajalah seseorang itu dapat memasuki syurganya. Apabila kita memohon kepada Allah s.w.t. supaya dimasukkan ke dalam syurga dengan rahmatnya maka mintalah supaya Allah s.w.t. memasukkan kita dengan rahmatnya ke dalam syurga FIRDAUS. Insya’Allah.

Ingatlah 7 Perkara Ini

Abul Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Dzar r.a. berkata: “Saya dipesan oleh junjunganku Nabi Muhammad s.a.w. tujuh macam yang tidak sampai saya tinggalkan dan tidak akan saya tinggal semua itu iaitu: Saya dipesan supaya suka kepada orang-orang miskin dan mendekati mereka Saya dipesan supaya selalu melihat kepada orang-orang yang dibawahku dan tidak melihat pada orang-orang yang diatasku Saya dipesan supaya tetap menghubungi kaum kerabat meskipun mereka jauh dan memutuskan hubungan Saya dipesan supaya memperbanyakkan membaca: Laa haula walaa quwwata illa billahi, kerana itu sebagai perbendaharaan kebaikan atau tabungannya Saya dipesan supaya jangan minta apapun dari sesama manusia Saya dipesan supaya jangan takut didalam melaksanakan hukum Allah s.w.t. dari cela (ejekan) orang-orang yang mengejek Saya dipesan supaya selalu berkata benar meskipun pahit dan berat Dan adanya Abu Dzar jika jatuh pecut dari tangannya sedang ia diatas kenderaannya, maka tidak suka minta tolong kepada orang untuk mengambilkannya
Unknown kisah teladan